Tempat sobat menemukan berita, informasi, kesehatan, opini, review dan lainnnya

Istilah 'Montoroka' Dalam Budaya Binongko



Makna dan pengertian dari istilah Montoroka dalam budaya masyarakat Binongko
Gambar hanya sebagai ilustrasi seseorang yang sedang menata makanan. Photo by: pixabay/Rickbella



Saya nggak tahu ini udah puasa yang ke berapa, intinya menuju beberapa hari terakhir puasa ramadhan 2023 ini saya hanya fokus pada ibadah yang khusyuk daripada harus banyak menghitung jumlah puasa tahun ini.

Kebetulan dirumah pada beberapa hari terkahir ini sedang ada rencana pernikahan keluarga yang nantinya akan digelar usai hari raya idul Fitri tahun ini. Sebut saja salah satu keluarga kami akan menikah. Jadi sejak jauh hari kami sudah melakukan banyak persiapan.

Kebetulan kemarin ini ada pertemuan keluarga, untuk membahas beberapa persiapan penting. Yang sempat menarik perhatian saya adalah istilah 'montoroka' dalam budaya Binongko.

Salah satu pihak dari kami bertanya, siapa 'montoroka' yang akan kita pilih di acara pernikahan nanti. Pada saat itu saya sendiri bingung apa yang dimaksud dengan 'montoroka' ini dalam budaya masyarakat Binongko. Pada akhirnya, untuk menjawab rasa penasaran tersebut saya mencari tahu sendiri apa maksud dari istilah kata 'montoroka' dalam budaya masyarakat Binongko pada salah satu tokoh adat yang hadir dalam acara pertemuan tersebut.


Pengertian dan istilah kata 'montoroka'


Kata 'montoroka' dalam bahasa Binongko secara kasarnya sama artinya dengan 'pande sandu manga'= tukang sendok makanan.

'montoroka' adalah orang yang ditugaskan khusus untuk mengawasi makanan dan orang pertama yang membagikan makanan dalam acara, perayaan, dan kegiatan lainnya sebelum makanan tersebut dihidangkan diatas meja untuk dicicipi para tamu undangan dan lainnya.

Orang yang ditunjuk sebagai 'montoroka' ini bukanlah sembarang orang melainkan 
orang kepercayaan masyarakat setempat. Biasanya para 'montoroka' adalah orang yang dianggap memiliki kemampuan khusus dalam mengatur dan menyediakan stok masakan dan makanan berdasarkan syarat adat yang berlaku di lingkungan tersebut.

'montoroka' juga bukan koki atau chef maupun tukang masak atau lainnya. Montoroka dalam budaya Binongko ini dibagi atas dua yakni Montoroka untuk makanan pokok dan Montoroka untuk lauk pauk.


Montoroka makanan pokok


Mereka hanya mengatur stok masakan pokok, seperti menghitung dan memperkirakan jumlah beras yang perlu dimasak dan lainnya. Bahkan tuan rumah pun yang mempercayakan pada keputusan 'montoroka' untuk menentukan jumlah stok makanan seperti berapa liter beras yang akan disediakan nantinya.

Nah, selain itu Montoroka di bidang ini juga memiliki tugas sebagai orang pertama yang menyalurkan makanan seperti nasi dan lainnya untuk dihidangkan 
kepada tamu.


Montoroka lauk-pauk


Untuk Montoroka yang dipercayakan pada bagian ini tidak berkepentingan untuk mengurus urusan dapur seperti stok makanan dan lainnya. Tetapi dia hanya sebagai orang pertama yang membagikan lauk-pauk untuk dihidangkan kepada tamu.

Jadi, skemanya adalah pada saat semua masakan yang disiapkan dalam suatu acara 
ini telah selesai dimasak, maka makanan tersebut harus diantarkan terlebih dahulu kepada Montoroka. Nanti selanjutnya, para pelayan makanan akan mengambil makanan untuk hidangan tersebut dari para Montoroka untuk disiapkan diatas meja atau kepada para tamu.



Montoroka dalam budaya masyarakat Binongko


Montoroka dalam budaya masyarakat Binongko merupakan sosok penting yang harus selalu dihadirkan dalam setiap acara, hajatan, dan lainnya yang bersangkutan dalam urusan masak-memasak dan perayaan besar.

Montoroka memiliki peran yang juga cukup penting dalam mengatur stok dan jumlah makanan dan hidangan agar semua tamu undangan dapat tercukupi untuk menikmati hidangan tersebut.

Para Montoroka yang berperan untuk mengatur makanan ini bertindak sesuai syarat dan ketentuan khusus dari kepercayaan leluhur mereka. Sehingga tidak sembarang orang dapat ditunjuk sebagai 'montoroka'.

Pertama Kali Adanya 'Pakaian' di Binongko. Masyarakat Binongko Terapkan Sifat Ini

Kolomberita.online

Pada zaman dahulu dipulau Binongko, jauh sebelum Indonesia merdeka. Masyarakat Binongko kala itu belum mengenal istilah pakaian. Seperti baju maupun celana. Pakaian yang mereka gunakan untuk menutup badan dan aurat saat itu adalah kain tenun yang dibuat secara tradisional. Seperti sarung.

Baik laki-laki maupun perempuan, tidak ada istilah rok atau celana. Semua memakai sarung sebagai pakaian mereka. Bahkan, menggunakan kain tenun inipun sudah dianggap cukup modern dimasa itu setelah masyarakat awalnya mengenakan pakaian dari kulit kayu.


Baca juga:

Di pulau Binongko saat itu. Tidak diketahui tahun berapa persisnya. Awal mula mereka mengenal istilah pakaian seperti baju dan celana adalah ketika pemikiran masyarakat sudah berkembang dengan membuat perahu untuk berdagang keluar pulau.


Ketika pertama kali orang binongko mengenal pakaian
Photo: pixabay/DzeeShah
Ilsutrasi wanita berpakaian, cantik, wanita berambut cokelat



Perahu-perahu tersebut ada yang berlayar hingga ke pulau Jawa untuk mengantarkan hasil rempah-rempah yang diambil dari pulau Maluku dan Indonesia Timur lainnya.

Setelah adanya banyak perahu-perahu kecil yang masuk dan keluar yakni dari dan menuju pulau Binongko, akhirnya banyak pula masyarakat Binongko yang merantau hingga ke tanah Jawa dan ke Indonesia bagian barat lainnya.

Pada masa itu, pemikiran masyarakat pun mulai berkembang. Kemudian para perantau dan beberapa orang lainnya yang sudah ke tanah Jawa kembali pulang ke pulau Binongko, akhirnya membawa baju dan celana atau disebut pakaian dan dikenalkan ke masyarakat Binongko. Sejak saat itu masyarakat Binongko mulai mengenal istilah pakaian seperti baju dan celana.


Baca juga:

Bukan hanya itu, seiring berjalannya waktu. Para pedangan pun dari luar pulau mulai berdatangan, menjual segala kebutuhan, perabotan, termasuk pakaian seperti baju dan celana.

Namun, pada saat itu di pulau Binongko jenis baju dan celana masih dibilang cukup sulit dan mahal didapatkan. Sehingga memiliki selembar baju dan celana pun kala itu sudah dianggap sangat berharga.


Baca juga:

Oleh karena itu, terkait dengan istilah pakaian seperti baju dan celana ini ketika pertama kali di kenal oleh masyarakat Binongko. Akhirnya mereka menerapkan beberapa sifat berikut ini:


Pakaian jangan terlalu sering di cuci

Karena pada masa itu di masyarakat Binongko, baju dan celana atau disebut pakaian ini termasuk sesuatu yang sangat berharga karena selain mahal juga sulit didapatkan. 



Sehingga mereka akan sangat menjaganya dengan baik agar pakaian yang dimiliki tetap awet.

Salah satunya, jangan terlalu sering dicuci. Mencuci pakaian terlalu sering akan membuat pakaian mudah tipis dan sobek.


Memiliki 3 atau 4 lembar pakaian baju dan celana, akan disebut orang paling kaya


Memiliki lebih dari dua pakaian seperti baju dan celana pada masa itu di pulau Binongko anda akan sangat dihargai sebagai orang paling kaya.



Karena pada saat itu, pakaian seperti baju dan celana memiliki harga yang cukup mahal, dan biasanya hanya orang-orang yang pulang dari perantauan di Jawa, dll.


Mengenakan baju berlapis-lapis sebagai tren


Pada saat itu di pulau Binongko, mengenakan baju berlapis-lapis adalah sebagai tren dan biasanya hanya dapat dinikmati oleh orang-orang berada.

Bahkan bentuk mode pakaian seperti ini masih sering kita jumpai dimasa sekarang ini pada nenek-nenek  di pulau Binongko yang berpakaian saat ke kebun mereka.

Misalnya, menggunakan celana training panjang, lalu menggunakan rok kain setinggi lutut sebagai penutup. Kemudian memakai baju kaos dengan lengan panjang lalu dilapisi lagi dengan kaos lengan pendek, kemudian menutupnya dengan baju lainnya seperti jas, atau kemeja yang tebal, dll.


Baca juga:

Jangan heran, jika tanpa sengaja kalian dapat menjumpai seorang nenek atau ibu di pulau Binongko yang berjalan ke kebun dengan pakaian seperti ini. Kini, salah satu alasannya adalah menjaga kulit mereka agar terlindungi dari gigitan serangga, duri tajam, dll. Padahal, jenis pakaian seperti ini sudah pernah ada pada zaman dahulu sebagai salah satu tren dimasa itu di pulau Binongko.


Walaupun demikian, sifat dan prinsip diatas tidaklah berlaku surut. Artinya sifat itu yang ditanamkan dalam pemahaman masyarakat Binongko pada masa itu adalah mengingat dengan kondisi dan situasi ekonomi yang sedang sulit. Zaman pun belum semodern saat ini. Akses, pendidikan, teknologi, dan berbagai bidang lainnya masih asing di masa itu.

Namun pada masa sekarang ini. Pengaruh teknologi di pulau Binongko sudah berkembang, seiring berkembangnya Kabupaten Wakatobi sebagai induknya pulau Binongko. Pemikiran masyarakat, kondisi ekonomi, pembangunan selalu ada peningkatan tiap demi tahunnya. Meski flashback ke tahun 90-an, pulau Binongko adalah salah satu pulau di Indonesia yang terisolir.

Beauty & The Beast versi Tula-Tula Binongko,

Kolomberita.online

Sewaktu kecil saya senang mendengar dongeng yang diceritakan orangtua saya, khususnya dongeng asli di tanah Binongko.

Banyak sekali dongeng menarik ternyata dari pulau Binongko ini. Kami menyebutnya dengan 'tula-tula'. Bagi saya, sewaktu kecil 'tula-tula' adalah pengantar tidur saya.

Dari semua dongeng yang di ceritakan sebagai pengantar tidur saya semasa kecil, ada satu dongeng yang paling saya sukai yakni dongeng kisah cinta La Bela Kumbou dan si Cantik WaOde. Kalau di pikir-pikir, kisah ini hampir mirip dengan rekaan film The Beauty and the Beast, hehe

Ada alasan saya menyebut kisah atau tula-tula La Bela Kumbou dengan Wa Ode ini adalah cerita Beauty and the Beast versi Binongko. Karena cerita la Bela Kumbou dan Wa Ode adalah kisah cinta si cantik dan siburuk rupa ala Binongko.

Bedanya, La Bela Kumbou bukanlah anak seorang raja, Pangeran atau Kaisar yang mendapat kutukan dan menjadi buruk rupa. Melainkan dia hanyalah Seekor Biawak yang memang buruk rupa, seekor hewan dan bukan kutukan.

Dalam kisah La Bela Kumbou dan Wa Ode, secara spesifik tidak bisa dibandingkan dengan kisah cinta dalam dongeng Beauty and The Beast. Tapi secara garis besar kita dapat mengambil kesimpulan yang sama dari kisah cinta keduanya dalam dongeng tersebut. Yakni tentang ketulusan cinta, tanpa memandang fisik, hanya soal hati yang tulus dan murni.

Semasa itu, saya begitu tertarik dengan perjuangan seorang pria buruk rupa yang menginginkan hati wanita cantik. Kisah cinta La Bela Kumbou yang berjuang untuk Wa Ode bisa melambangkan arti pengorbanan cinta yang sesungguhnya, meskipun kala itu diusia saya yang masih kecil saya belum terlalu luas memahami arti cinta yang sebenarnya.


Dari semua dongeng yang di ceritakan sebagai pengantar tidur saya semasa kecil, ada satu dongeng yang paling saya sukai yakni dongeng kisah cinta La Bela Kumbou dan si Cantik WaOde. Kalau di pikir-pikir, kisah ini hampir mirip dengan rekaan film The Beauty and the Beast, hehe  Semasa itu, saya begitu tertarik dengan perjuangan seorang pria buruk rupa yang menginginkan hati wanita cantik. Kisah cinta La Bela Kumbou yang berjuang untuk Wa Ode bisa melambangkan arti pengorbanan cinta yang sesungguhnya, meskipun kala itu diusia saya yang masih kecil saya belum terlalu luas memahami arti cinta yang sebenarnya.
Ilustrasi dongeng La Bela Kumbou dan Waode



Cinta dalam dongeng atau 'tula-tula' La Bela Kumbou dan Waode jika di bandingkan dengan alur kisah dalam film Beauty and the Beast jelas berbeda. Tapi saya mengambil kesimpulan yang sama tentang kisah dari sama-sama pria yang buruk rupa untuk sebuah cinta pada gadis cantik.

La Bela Kumbou sebenarnya wujudnya adalah seekor biawak yang menyukai seorang manusia, yakni wanita cantik yang disapa WaOde. La Bela Kumbou dalam 'tula-tula' tersebut berperan sebagai orang yang gigih merebut hati sang wanita cantik ini dengan membawakan apa saja yang diinginkannya.

Secara kebetulan WaOde suka makan ikan, jadi La Bela Kumbou berusaha memancing ikan tiap hari dan mengantarkan ikan tersebut kepada WaOde sebagai pria misterius dan selalu menyimpan ikan itu hanya sampai depan rumah Waode karena takut Waode melihat wujud aslinya.

Suatu hari, La Bela Kumbou sangat ingin berjumpa dengan Waode setidaknya dapat bertamu kerumahnya. Akhirnya, La Bela Kumbou sengaja bertamu pada malam hari agar Waode tidak mengenal sosok aslinya. 

La Bela Kumbou datang dengan membawa ikan seperti biasa agar Waode dapat mengenal bahwa ialah yang selalu mengantarkan ikan itu dan Waode dapat menerimanya bertamu.

Sayangnya, kedatangan La Bela Kumbou untuk bertamu sekaligus membawa syarat khusus pada Waode, untungnya syarat tersebut dapat diterima yaitu La Bela Kumbou akan masuk ke dalam rumah sebagai tamu tapi dengan syarat lampu dimatikan hanya dengan sedikit penerang saja. La Bela Kumbou beralasan bahwa matanya sedang sakit karena terlalu sering melaut mencari ikan jadi kesulitan untuk melihat cahaya.

Waode mengiyakan syarat itu. Merekapun asyik bercanda tawa, bercerita bersama dalam lampu yang remang-remang. Tanpa disadari bahwa sebenarnya lawan bicara Waode ini adalah seekor biawak.

Sebenarnya, sejak awal Waode sudah menaruh rasa curiga kepada La Bela Kumbou, karena ikan yang di bawakannya selalu kotor dengan tanah. Sempat juga ditanyakan langsung kepada La Bela Kumbou sewaktu datang bertamu, tapi La Bela Kumbou berdalih bahwa ikan itu kotor karena seringkali tali pengait ikannya putus. Padahal, dia tidak bisa mengaku jujur kalau sebenarnya ikan-ikan itu kotor dengan tanah karena ia hanyalah seekor biawak yang jelas-jelas tidak bisa memegang ikan itu dengan baik seperti manusia, terpaksa harus diseret ditanah.

Karena perasaan penasaran Waode semakin mendesaknya, akhirya ia mencoba mencari tahu sendiri kebenaran itu. Dia berusaha menebak jam tertentu yang biasanya La Bela Kumbou datang kermahnya membawa ikan. Dihari itu, Wa Ode sengaja bersembunyi untuk menyaksikan dari jauh siapakah sosok yang selalu membawakan ikan itu.

Seperti biasanya La Bela Kumbou datang pada waktu yang tepat untuk membawakan ikan kepada Wa Ode. Alhasil Waode sangat terkejut ketika yang dilihatnya adalah sosok biawak. Sama sekali ia tidak menduga bahwa pria yang selama ini baik dan ia menaruh rasa itu adalah seekor biawak. Begitu hancurnya perasaanya Waode.

Singkat cerita, Waode akhirnya tetap bisa menerima La Bela Kumbou walaupun ia hanyalah seekor biawak. Baginya cinta adalah ketulusan, bukan fisik semata.

_________________

Keseluruhan cerita cinta La Bela Kumbou dengan Waode ini jelas berbeda dengan alur dalam film beauty and the beast. Tapi saya menyebutnya kisah cinta La Bela Kumbou ini diibaratkan film beauty and the beast versi tula-tula Binongko.

Meskipun La Bela Kumbou bukanlah seorang pangeran seperti dalam film beauty and the beast, tapi saya mengagumi cerita ini dari kehidupan kisah cinta si buruk rupa dan si cantik yang akhirnya menemukan kisah cinta sejatinya yang tidak dipandang dari fisik melainkan sebuah ketulusan. Sebuah takdir cinta atau karena benar-benar cinta.

Tradisi Hemerara Orang Binongko bagi yg Isai Lahiran Bayi


Hemerara'! Orang Binongko pakai cara ini Wajib usai Melahirkan. 

Cara Tradisional Bersihkan Darah Kotor Usai Lahiran ala orang Binongko


Bagi wanita yang usai melahirkan sudah banyak cara yang ditempuh di kalangan modern saat ini. Sekarang sudah tersedia rumah sakit tempat untuk bersalin dengan mudah, sudah tersedia juga berbagai macam jenis obat untuk mengatasi dan menyembuhkan usai lahiran.


Bagi wanita yang melahirkan sudah banyak cara yang ditempuh di kalangan modern saat ini. Sekarang sudah tersedia rumah sakit tempat untuk bersalin dengan mudah, sudah tersedia juga berbagai macam jenis obat untuk mengatasi usai lahiran.
Sumber: laurencerouault


Berbeda dengan kebiasaan di pulau Binongko, Wakatobi. Meski zaman sudah modern, kebiasaan Hemerara dianggap sebagai ritual wajib yang harus dilaksanakan usai lahiran bagi seorang wanita.

Hemerara ini sudah menjadi tradisi di pulau Binongko. Ini merupakan hal wajib yang dilakukan oleh seorang ibu usai melahirkan. Dalam Hemerara merupakan paket komplit untuk kepentingan kesehatan ibu dan membersihkan darah kotor usai lahiran. 

Di pulau Binongko tidak ada istilah kuno untuk kata Hemerara. Zaman yang sudah modern tidaklah memberi pengaruh. Sebab, Hemerara akan dianggap sangat penting pengaruhnya bagi wanita yang baru saja melahirkan.

Bagi seorang wanita yang baru saja lahiran, maka kondisi wanita tersebut bukan hanya mengalami pendarahan yang begitu banyak, tetapi juga masih tersimpan banyak darah kotor yang mengendap dalam rahimnya. 

Darah kotor ini lah yang dianggap oleh masyarakat Binongko bahwa harus benar-benar dibersihkan hingga tuntas. Jika tidak, ini akan menimbulkan efek buruk bagi kesehatan sang wanita. Itulah pentingnya kenapa sangat dibutuhkan untuk melakukan Hemerara.

Hemerara adalah suatu cara tradisional bagi orang yang usai melahirkan untuk membersihkan darah kotor yang tertinggal di dalam rahim usai lahiran.

__________________
Hemerara dilakukan dengan memunggungi/duduk membelakangi tungku dengan bara api yang menyala. Fungsinya untuk tetap menghangatkan bagian punggung kebawah hingga panggul hingga darah kotor dapat encer dan keluar dengan mudah dari rahim.

Tekniknya, biasanya menggunakan kaleng kosong sebagai tungku perapian dan dilobangi dibagian tengah untuk dapat memudahkan pengaturan api dan kayu yang dibakar. Lalu, sang ibu yang usai lahiran akan duduk di hadapan tungku dengan beberapa jarak saja agar rasa hangat tetap dirasakan.

Hemerara adalah suatu cara tradisional bagi orang yang usai melahirkan untuk membersihkan darah kotor yang tertinggal di dalam rahim usai lahiran.
Salah satu contoh sederhana dari tungku Hemerara yang dibuat dari Kaleng Biskuit.


Hemerara ini biasanya dilakukan selama kurun waktu 30 hari, meski tidak dengan waktu yang tetap selama 24 jam. Tetapi setidaknya hemerara kni dilakukan setiap hari hingga 30 hari tersebut.
____________

Sebenarnya teknik hemerara ini belum selesai dengan hanya menggunakan tungku. Disamping itu juga, sang wanita yang usai melahirkan juga masih membutuhkan Sando/dukun beranak untuk membantu. Tugas Sando ini biasanya membantu mengompres perut dengan air hangat sekaligus dengan pijatan khusus agar darah kotor benar-benar keluar dan bersih dari rahim. 
_____________

Di pulau Binongko, masyarakatnya bukan tidak peduli dengan pengobatan modern bagi ibu/wanita yang usai melahirkan. Tapi, ibaratnya Hemerara sudah menjadi kebiasaan turun-temurun.

Bahkan, banyak masyarakat yang menganggap bahwa kualitas Hemerara kadang lebih ampuh dari sekedar meminum obat untuk membersihkan darah kotor di rahim wanita yang usai melahirkan.

Ini bukan persoalan menyepelekan atau tidak mempercayai obat medis. Bahkan mereka melakukan keduanya. Disamping obat medis juga kebiasaan Hemerara tetap dilakukan. Karena masyarakat Binongko sungguh percaya bahwa Hemerara sangat mujarab bagi wanita/ibu yang usai melahirkan dalam membersihkan darah kotor-nya hingga tuntas.

Jadi jangan heran, jika berkunjung ke pulau Binongko untuk sekedar menengok atau menjumpai sanak saudara, kerabat, keluarga yang usai melahirkan dan dan anda menyaksikan ritual ini di rumahnya. Jangan kaget karena itulah yang disebut Hemerara.

Benteng Palahidu dan Kerajaan Yang Berkuasa di Binongko

Sejarah Benteng Palahidu dan Kerajaan Yang Berkuasa di Binongko


Sejarah benteng palahidu
Ilustrasi tentang kastil, benteng yang besar, awan dan langit, lambang sebuah bekas kejayaan di masanya. Foto by: DavidPogue


Benteng Palahidu adalah simbol sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di tanah Binongko, Wakatobi.

Pulau Binongko dan masyarakatnya hingga saat ini dihuni oleh dua suku budaya. Yakni suku Mbeda-Mbeda dan Cia-cia. Pada zaman dahulu, suku Cia-Cia adalah orang pendatang dari Buton Bau-Bau. Jadi kehadirannya sedikit kurang disenangi di tanah Binongko. Meskipun hingga saat ini mereka tetap menjalin hubungan yang solid, akrab dan bersaudara.

Sebuah kerajaan yang pernah berjaya di tanah Binongko yakni Kerajaan Palahidu. Kerajaan ini berjaya dan berkuasa di masanya. Gelar sang raja adalah Jou. Jou adalah kasta tertinggi di kerajaan Palahidu Binongko.


Baca juga:

Pada masa itu. Setidaknya ada 3 kerajaan dan kekuasaan yang ada di pulau Binongko. Pertama adalah kerajaan palahidu, kedua kerajaan di Watiua dan dan kerajaan di Wali. Namun, tidak ada yang tahu lebih jelas, manakah yang termasuk kerajaan pertama di pulau Binongko.
Namun dari sumber lisan yang ada, dituturkan bahwa kerajaan yang besar dan paling berkuasa saat itu adalah kerjaan palahidu yang memiliki kekuasaan hampir diseluruh pulau Binongko.

Sang Raja Jou Palahidu, disebut-sebut merupakan turunan dari kerajaan kesultanan Buton. Namun cerita itu tidak diakuninya, dan masih menjadi berita yang belum mendapat jawaban. Namun penjelasan itu secara tidak langsung menjawab pertanyaan masuknya islam pertama di pulau Binongko.

Diwilayah benteng kekuasaan kerajaan palahidu ini terdapat sebuah tiang mesjid yang masih kokoh berusia ratusan tahun kira-kira.

Sedangkan sebuah bukti bahwa kerajaan Palahidu termasuk kerajaan yang berkuasa adalah perlakuannya terhadap orang pendatang. Siapapun yang berani datang ke pulau Binongko maka harus membayar pajak/upeti. Jika tidak maka akan dipenggal kepalanya.

Benteng palahidu juga dibangun dengan begitu luas, dan termasuk kekuasaan dan batas yang tak terhingga di pulau Binongko.


Baca juga:

Namun di suatu ketika, masuknya orang-orang buton cia-cia ke pulau Binongko membuat keutuhan kerajaan ini mulai goyah. Mulai merasa terusik, terganggu dan tidak nyaman.

Dari sumber lisan pun disebutkan bahwa, pernah ada cekcok dan peperangan antara kerajaan Palahidu dan Kerajaan Wali. Sebab kerajaan Wali adalah orang-orang pendatang dari Buton dan akhirnya mengambil tempat dan berkuasa juga.

Pertarungan terjadi, kematian dan kehancuran pun dialami. Hingga penduduk yang tinggal atau penghuni di kerajaan palahidu angkat kaki. Mereka menyebar dibeberapa tempat di pulau Binongko. Sebab tidak ada lagi kehidupan di kerajaan Palahidu begitupun di kerajaan Wali.


Baca juga:

Perselisihan itu membangun dua kubu yang terpisah antara blok barat dan timur. Sehingga mereka mengambil tempat dan tinggal diwilayah yang masih menjadi kekuasaan mereka. Yakni masyarakat Cia-Cia bertempat tinggal di sebagian pulau Binongko bagian Timur, sedangkan bagian barat adalah msyarakat Mbeda-Mbeda.

________
Cerita ini adalah hanya sebuah cerita yang bersumber dari cerita atau tula-tula tanah Binongko yang masih diserta dengan bayang-banyang untuk mereka-reka atau menebak. Jadi, ini bukan poin yang dapat dijadikan patokan tentang sejarah Benteng palahidu yang sebenarnya.

Mampir Ke pulau Binongko. Ini 4 lokasi Wisata yg Wajib di Kunjungi

Mampir Ke pulau Binongko. Ini dia 4 lokasi Wisata yg Wajib di Kunjungi


tempat wisata di pulau binongko ada 4 lokasi wisata di binongko yang indah tempat berlibur
Ilustrasi pantai yang indah dengan ombak, laut dan matahari terbenam di sore hari. Photo by: 12019



Kalau anda menyebut Wakatobi sebenarnya ada pulau Binongko disana. Hanya saja bagi orang awam yang masih asing dengan nama Wakatobi mengira bahwa Wakatobi adalah Wanci saat ini sebagai pusat dan kabupatennya.

Baca juga:

Padahal Wakatobi adalah gabungan dari 4 pulau besar yakni Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Sementara itu masih banyak pulau pulau kecil lainnya yang menjadi bagian dari Wakatobi ini.

Btw, jika ke Wakatobi dan sempat mampir di Pulau Binongko rasanya tidak begitu seru jika melewatkan untuk berkunjung ke beberapa tempat wisata menarik di pulau Binongko.

Wisata dan tempat wisata di pulau Binongko ini ada beragam yang bisa dinikmati, sebagian besarnya adalah wisata petualangan yakni menjajaki tempat-tempat bersejarah di pulau Binongko.

Baca juga:

Tapi ada juga tempat wisata di pulau Binongko yang bisa anda kunjungi dengan mudah, yakni ke beberapa tempat berikut ini:

Ini adalah termasuk 4 lokasi wisata yang ada dipulau Binongko, Wakatobi yang dirasa WAJIB untuk anda kunjungi.

Baca juga:


1. Pantai Pasir Panjang

Pantai Pasir Panjang di pulau Binongko ini terdapat di kecamatan Togo Binongko. Dalam bahasa lokal disebut sebagai pantai One Melangka.

Disebut sebagai pantai pasir panjang karena pantai ini menyajikam panorama pantai pasir putih yang panjang di sandingkan dengan deretan pohon kelapa melambai ke pantai membawa suasana sejuk disana.

di Pantai Pasir Panjang ini juga terdapat tempat peristirahatan, gazebo, beberapa fasilitas berlibur lainnya termasuk dengan keindahan rawa-rawa, dan pohon bakau yang membawa suasana alam yang asri dan indah.


2. Pantai Yoro

Pantai Yoro juga merupakan salah satu tempat wisata menarik di pulau Binongko yang perlu di kunjungi jika mampir ke Pulau Binongko.

Pantai Yoro berada di Kelurahan Wali, Kecamatan Binongko. Pantai ini masih membawa sifat alamnya yang sesungguhnya karena masih sedkit terjamah dengan aktfivitas manusia.


3. Wisata ke Taman Batu Pulau Binongko

Wisata ke Taman Batu pulau Binongko ini merupakan salah satu wisata bersejarah. Karena ditempat ini masih tersimpan banyak misteri dan peristiwa kelam di masa lalu pulau Binongko.

Taman Batu ini dulu adalah sebuah desa kecil lalu ditinggalkan oleh penghuninya karena sesuatu dan lain hal. Sehingga Taman Batu menyisakkan sejarah yang penuh tanda tanya.

Disebut sebagai wisata taman batu, karena di tempat ini kita hanya akan disajikan dengan pemandangan bebatuan atau batu alam semata. Tanpa pohon dan tumbuhan lainnya. Meski begitu, tempat ini memiliki nilai eksotis dan indah sebagai tpat wisata yang menarik untuk di kunjugi di pulau Binongko.


4. Pantai Palahidu

Pantai Palahidu juga merupakan salah satu tempat atau destinasi pilihan di pulau Binongko. Pantai ini juga selain menawarkan keindahan pantai juga tentang nilai sejarahnya.

Disekitar pantai ini, terdapat jejak sisa sebuah kerajaan yang pernah berjaya dengan benteng yang kokoh. 
Pantai Palahidu ini ada di desa Palahidu Barat, kecamatan Binongko. 

Pantai ini merupakan pantai pasir Putih yang indah dengan hamparan bebatuan yang menjulang kelaut di tepi pantai.

Disisi atas pantai terdapat tebing-tebing melengkung bekas hempasan ombak. Temoat ini bisa untuk berteduh dikala siang hari dan menambah suasana alam yang lengkap.


____,,,,
Ada banyak sekali tempat wisata menarik lainnya di pulau Binongko selain 4 hal tersebut. Seperti permandian Topa Labago di desa Bante, wisata ke gunung Watiua dan jejak sejarahnya dan masih banyak lagi.

3 Tradisi Unik Saat Hari Raya di Pulau Binongko yang Bikin Rindu

Pada saat Hari Raya atau menyambut Hari Raya bagi umat muslim yakni hari raya idul fitri maupun idul adha, mungkin saja setiap orang, tempat atau daerah memiliki tradisi atau kebiasaan masing-masing yang unik dan berbeda dengan yang lainnya.

Hal-hal seru tersebut akan menjadi momen yang sangat berarti ketika hari raya tiba. Selain menikmati makanan, hidangan, silaturahmi, maaf-maafan, juga mungkin ada beberapa kegiatan lain yang unik dan menarik serta hanya terjadi dimomen lebaran atau hari raya saja.

Seperti di pulau Binongko. Sebagian besar penduduk atau masyarakat Binongko adalah perantau,  jadi momen hari raya adalah momen yang sangat berarti untuk brrkumpul dan silaturahmi. Sehingga mereka membuat suatu kegiatan tertentu yang akhirnya menjadi kebiasaan bahkan tradisi yang melekat serta turun-temurun. 

Setidaknya ada 3 tradisi unik di pulau Binongko saat hari raya, yakni sebagai berikut:


3 Tradisi Unik Hari Raya di Pulau Binongko

 

Salah satunya di pulau Binongko. Dalam menyambut hari suci ini bagi umat muslim, masyarakat Binongko dikenal 100% penduduknya adalah islam. Begitupun tradisi di daerah ini memiliki cara unik dalam menyambut hari lebaran atau hari Raya. Berikut ini 3 Tradisi Unik Hari Raya di Pulau Binongko:
sumber: AdinaVoicu

Setiap moment hari kebahagiaan maka patut kita merayakannya sebagai ungkapan rasa syukur. Termasuk pada Hari Raya yang dianggap hari kemenangan dan hari besar agama Islam. Bagi yang merayakan atau umat muslim, akan menjadikan ini sebagai hari yang penuh suka cita. Dalam perayaan hari raya, setiap daerah memiliki tradisi tersendiri baik yang unik, mewah, dan sebagainya.


baca lainnya:

Binongko

  1. 2 Virus Ganas yang Pernah Menyerang Pulau Binongko Wakatobi, selain Covid-19
  2. 3 Tokoh Pahlawan Misterius Tanah Binongko: Misteri Pulau Binongko
  3. Binongko: Tentang Bahasa dan Budayanya - New!



Salah satunya di pulau Binongko. Dalam menyambut hari suci ini bagi umat muslim, masyarakat Binongko dikenal 100% penduduknya adalah islam. Begitupun tradisi di daerah ini memiliki cara unik dalam menyambut hari lebaran atau hari Raya. Berikut ini 3 Tradisi Unik Hari Raya di Pulau Binongko:

 

Baca lainnya:

Kuliner

  1. 2 Makanan Khas Daerah Tervaforit di Sulawesi Tenggara
  2. Fakta Unik dan Khasiat Kasoami sebagia makanan khas di Wakatobi


Joget Siang Pulau Binongko

Acara joget siang di pulau Binongko merupakan hal yang patut ada dalam perayaan menyambut hari raya atau hari kemenangan islam. Tradisi ini dapat dijumpai pada acara yang biasa digelar oleh masyarakat Wali pulau Binongko. Usai melaksanakan shalat hari Raya idul fitri maupun idul adha, maka selanjutnya para muda dan mudi atau kelompok remaja masyarakat Wali akan menyusun rencana pelakasanaannya.


Baca juga:

  1. Hantu Wa Ode, Usil & Takut Kentut. Kisah dari Tanah Binongko
  2. Jin dan Desa yang Hilang: Misteri Tanah Binongko, Wakatobi
  3. Kini Tenggelam, "Wa Ina Ku Doli Dongkamo", lagu Banti-Banti Binongko Yang Usang Oleh Waktu: Memiliki Makna dan Pesan yang Dalam


Acara joget siang ini tidak dilakukan dalam satu tempat tetapi berkeliling kerumah-rumah. Pemilik rumah yang ingin dijumpai maka wajib menyetor uang saweran pada pengurus acara, agar para kelompok remaja ini bisa mampir dan menggelar joget di halaman depan rumah. Acara joget siang ini juga tidak terbatas kepada siapapun yang ingin berpartisipasi termasuk orang-orang dari desa/ kampung lainnya.

 

Tradisi Polelei Pulau Binongko

Tradisi ini merupakan tradisi turun-temurun yang memiliki arti mendalam. Salah satunya mempererat hubungan tali silaturahmi masyarakat Binongko. Car menggelar tradisi polelei ini yakni masyarakat akan berkumpul pada satu tempat yang telah ditentukan, lalu beramai-ramai mengunjungi satu rumah hingga kerumah lainnya hingga selesai. Para tamu yang hadir di suguhkan berupa snack, kue-kue, minuman segar untuks ekedar dicicipi atau dinikmati. Bisa baca lebih lengkap tentang tradisi polelei pulau Binongko.


Baca juga: 

  1. Nyanyian Roh! Metode Pengobatan Tradisional Binongko, Lagu Ande-Ande Mengobati Penyakit Ganas
  2. Tahapan Pernikahan Adat Binongko, Dari Persiapan Hingga Akad
  3. Tata krama Tradisi Joget Maju Mundur, di Pulau Binongko Wakatobi

 

Silat Mansa Pulau Binongko

Silat mansa atau mansa’a merupakan warisan budaya dari tanah adat pulau Binongko, umumnya Wakatobi. Pagelaran silat mansa pada hari raya idul fitri atau idul adha sebagai ungkapan rasa syukur atas hari kemenangan umat islam. Silat mansa digelar pada hari-hari besar seperti ini agar tetap menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya tanah Binongko. 

Sebenarnya, silat mansa ini dapat dijumpai dalam beragam acara pesta lainnya. Namun berbeda halnya pada saat hari raya idul fitri maupun idul adha di Pulau Binongko, karena acara silat mansa ini akan kita jumpai digelar hampir di seluruh kampung pulau Binongko.

 

 

Cari Blog Ini

Back To Top